Kalau kamu sering scrolling TikTok belakangan ini, mungkin kamu sudah familiar dengan istilah “high cortisol” dan “low cortisol.” Katanya, susah tidur, gampang capek, berat badan naik, atau mood berantakan bisa jadi tanda cortisol nggak seimbang. Tapi, emangnya sesimpel itu? Jawabannya: nggak juga.
Cortisol Itu Apa Sih?
Cortisol adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal dan punya peran penting dalam membantu tubuh merespons stres, menjaga tekanan darah, mengatur kadar gula darah, dan membantu tubuh mengubah makanan menjadi energi. Hal ini juga dijelaskan oleh National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), bagian dari National Institutes of Health (NIH).
Jadi, cortisol bukan hormon “jahat” yang harus selalu diturunkan. Tubuh memang membutuhkan cortisol. Yang menjadi masalah adalah ketika tubuh memproduksinya terlalu banyak atau terlalu sedikit akibat kondisi medis tertentu.
Apa Itu High Cortisol?
Cortisol yang terlalu tinggi dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan kondisi medis yang disebut Cushing’s syndrome.
Menurut NIDDK, Cushing’s syndrome terjadi ketika tubuh terpapar cortisol dalam jumlah berlebihan dalam waktu lama. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penggunaan obat corticosteroid tertentu dalam jangka panjang maupun gangguan yang menyebabkan tubuh memproduksi terlalu banyak cortisol.
Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:
1. Berat badan meningkat, terutama di bagian tengah tubuh
2. Wajah terlihat lebih bulat
3. Otot melemah
4. Mudah memar
5. Stretch mark keunguan yang lebar
6. Tekanan darah atau gula darah meningkat
Tapi ingat: punya satu atau dua gejala di atas bukan berarti kamu pasti punya high cortisol.
Endocrine Society juga menjelaskan bahwa banyak gejala yang muncul pada Cushing’s syndrome dapat ditemukan pada kondisi lain. Karena itu, diagnosis membutuhkan evaluasi medis dan pemeriksaan yang sesuai.
Kalau Low Cortisol?
Sebaliknya, tubuh yang tidak menghasilkan cortisol dalam jumlah cukup dapat berkaitan dengan adrenal insufficiency. Gejalanya dapat berupa mudah lelah, otot terasa lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, nyeri perut, hingga tekanan darah rendah. Pada kondisi yang berat, kekurangan cortisol dapat berkembang menjadi adrenal crisis, yaitu kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan segera. Endocrine Society merekomendasikan penanganan segera pada pasien dengan gejala berat atau adrenal crisis.
Jadi… Sering Stres = High Cortisol?
Belum tentu.
Stres memang melibatkan sistem tubuh yang mengatur cortisol. Namun, merasa stres, kurang tidur, atau sedang banyak pikiran tidak otomatis berarti kamu mengalami gangguan cortisol.
Begitu juga dengan rasa lelah.
“Aku gampang capek berarti cortisol-ku rendah.”
Not necessarily.
Endocrine Society menjelaskan bahwa diagnosis adrenal insufficiency tidak cukup dilakukan hanya berdasarkan gejala, karena gejalanya dapat menyerupai berbagai kondisi lain.
Terus Cara Tahunya Gimana?
Kalau dokter mencurigai adanya gangguan cortisol, pemeriksaan akan disesuaikan dengan kondisi yang dicurigai.
Untuk cortisol tinggi atau Cushing’s syndrome, Endocrine Society merekomendasikan beberapa pemeriksaan awal seperti urine free cortisol, late-night salivary cortisol, atau dexamethasone suppression test.
Sementara untuk cortisol rendah atau adrenal insufficiency, NIDDK menyebutkan bahwa salah satu pemeriksaan yang paling sering digunakan adalah ACTH stimulation test, yang melihat bagaimana tubuh merespons ACTH.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Nggak ada satu “cortisol hack” yang bisa menyelesaikan semuanya. Yang bisa kamu lakukan adalah kembali ke basic:
1. Tidur cukup
2. Makan dengan pola yang seimbang
3. Tetap aktif bergerak
4. Kelola stres
5. Jangan sembarangan menggunakan atau menghentikan obat steroid
Khusus obat corticosteroid, jangan menghentikannya secara tiba-tiba setelah penggunaan jangka panjang tanpa arahan dokter. NIDDK menjelaskan bahwa penghentian corticosteroid secara mendadak setelah penggunaan lama dapat menyebabkan adrenal insufficiency karena tubuh membutuhkan waktu untuk kembali memproduksi cortisol secara normal.
Jadi, Haruskah Takut?
No need to panic.
High cortisol dan low cortisol memang bisa menjadi tanda kondisi medis tertentu, tetapi nggak semua stres berarti high cortisol dan nggak semua rasa lelah berarti low cortisol. Daripada sibuk mencari “cortisol detox” atau mendiagnosis diri sendiri, lebih baik kenali perubahan tubuhmu dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika gejalanya menetap atau mengganggu aktivitas.
Referensi
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK/NIH). Cushing’s Syndrome.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK/NIH). Adrenal Insufficiency & Addison’s Disease.
Endocrine Society. Diagnosis of Cushing’s Syndrome Guideline Resources.
Endocrine Society. Primary Adrenal Insufficiency Guideline Resources.
