Kita berlatih untuk mencapai garis finis. Tapi ketika tubuh memberi tanda bahaya,
apakah kita tahu kapan harus berhenti?
Pada 11 Oktober 2026, Seoul Race di Korea Selatan menjadi saksi sebuah tragedi yang mengguncang komunitas lari. Yoo Ji-won, seorang pelari amatir berusia 25 tahun yang juga merupakan mahasiswa pascasarjana KAIST di bidang riset semikonduktor AI, tiba-tiba kolaps ketika mengikuti kategori half-marathon.
Menurut pengumuman panitia yang dikutip sejumlah media, insiden terjadi sekitar pukul 08.49 waktu setempat di kilometer 20,6. Dari total jarak half-marathon sejauh 21,0975 kilometer, garis finis hanya berjarak sekitar 500 meter. Yoo mendapatkan pertolongan darurat di lokasi dan dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans. Namun, ia meninggal setelah mendapatkan perawatan medis. Laporan VnExpress menyebut seorang petugas lomba yang menemukan Yoo menghubungi layanan darurat dan melakukan CPR. Hingga laporan media yang tersedia, penyebab pasti kematiannya belum diumumkan secara resmi. Kabar ini menjadi pengingat yang menyakitkan: bahkan di tengah sebuah kompetisi yang dipenuhi pelari, penonton, dan petugas, keadaan darurat medis tetap bisa terjadi dalam hitungan detik.
Bukan Sekadar Tentang Garis Finis
Dalam dunia lari, garis finis sering kali menjadi simbol dari semua hal yang telah kita perjuangkan. Kilometer demi kilometer, latihan pagi, napas yang terengah-engah, otot yang pegal, dan keinginan untuk memecahkan personal best.
Kita terbiasa mengagumi orang yang mampu berlari lebih jauh, lebih cepat, dan lebih konsisten. Kita membicarakan pace, heart rate, jarak tempuh, hingga medali yang berhasil dikumpulkan.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: kemampuan menyelesaikan lomba bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Tubuh bukan mesin yang bisa terus dipaksa bekerja hanya karena target belum tercapai. Dan ketika muncul tanda bahaya, keputusan untuk berhenti bukanlah kegagalan.
Kasus Yoo Ji-won tidak memberi kita dasar untuk menyimpulkan bahwa ia meninggal akibat kelelahan, dehidrasi, atau penyebab tertentu. Akan tetapi, peristiwa ini tetap membuka ruang untuk membicarakan kesiapsiagaan medis dan pentingnya mendengarkan kondisi tubuh ketika berolahraga.
Karena tujuan olahraga adalah menjaga kesehatan, bukan mempertaruhkan nyawa demi membuktikan bahwa kita mampu menyelesaikan satu rute.
CPR dan AED: Dua Hal yang Bisa Mengubah Respons terhadap Keadaan Darurat
Ketika seseorang tiba-tiba kolaps, tidak merespons, dan tidak bernapas secara normal, salah satu kondisi yang harus segera dicurigai adalah henti jantung. Henti jantung terjadi ketika jantung berhenti memompa darah secara efektif. Otak dan organ vital pun kehilangan suplai darah yang dibutuhkan untuk tetap berfungsi. Dalam situasi seperti ini, waktu menjadi sangat penting. Cardiopulmonary resuscitation (CPR), atau resusitasi jantung paru, merupakan pertolongan yang dilakukan untuk mempertahankan aliran darah melalui kompresi dada. Sementara itu, automated external defibrillator (AED) merupakan alat yang menganalisis irama jantung dan memberikan kejutan listrik jika diperlukan untuk menangani irama tertentu yang mengancam nyawa.
Keduanya memiliki peran berbeda, tetapi saling melengkapi. American Heart Association menyatakan bahwa CPR yang segera dilakukan dapat meningkatkan peluang bertahan hidup dari henti jantung di luar rumah sakit hingga dua sampai tiga kali lipat. AED juga penting karena defibrilasi dini dapat membantu memulihkan irama jantung tertentu. Artinya, orang yang berada di dekat korban tidak harus menunggu sampai tenaga medis tiba tanpa melakukan apa pun.
- Pastikan lokasi aman
- Periksa respons dan pernapasan
- Panggil layanan darurat
- Mulai CPR jika dicurigai terjadi henti jantung
- dan minta orang lain mengambil AED jika tersedia.
- Nyalakan AED dan ikuti instruksi yang diberikan alat tersebut.
Kita tidak bisa menjamin bahwa setiap upaya pertolongan akan berakhir dengan selamat. Namun, respons yang cepat dapat meningkatkan peluang korban untuk bertahan hidup. Dan orang pertama yang membantu mungkin bukan dokter. Bisa jadi petugas lomba, pelari lain, teman yang sedang menemani, atau orang asing yang kebetulan berada di sana. Itulah mengapa CPR dan AED seharusnya bukan sekadar istilah yang kita kenal dari film atau pelajaran kesehatan. Keduanya merupakan pengetahuan praktis yang layak dipelajari oleh masyarakat umum, terutama mereka yang aktif mengikuti kegiatan olahraga.
Pelari Juga Harus Tahu Kapan Tubuhnya Berkata Cukup
Kesiapsiagaan darurat bukan hanya soal menolong orang lain. Kita juga perlu mengetahui kapan harus meminta pertolongan untuk diri sendiri. Saat berlari, tubuh memang mengalami peningkatan detak jantung, napas yang lebih cepat, dan produksi keringat. Hal tersebut dapat menjadi respons normal terhadap aktivitas fisik. Namun, ada perbedaan antara rasa lelah yang wajar dan gejala yang tidak boleh diabaikan. Nyeri atau tekanan di dada, sesak napas berat, pusing seperti akan pingsan, keringat dingin yang disertai rasa lemas atau mual, serta jantung berdebar tidak biasa dengan gejala penyerta merupakan tanda untuk menghentikan aktivitas dan menilai kondisi dengan serius. Jika gejalanya berat, muncul mendadak, atau tidak segera membaik, segera cari pertolongan medis. Jangan memaksakan diri untuk melanjutkan lomba.
Kita juga perlu memahami bahwa tidak semua keadaan darurat memberikan peringatan yang jelas. Henti jantung dapat terjadi secara mendadak, bahkan pada seseorang yang tampak sehat dan aktif. Karena itu, mengenali gejala penting, tetapi kesiapsiagaan tidak boleh hanya bergantung pada kemampuan kita mendeteksi semua tanda sebelumnya. Persiapan sebelum berlari juga tetap penting: tingkatkan intensitas latihan secara bertahap, perhatikan kondisi kesehatan, tidur yang cukup, sesuaikan asupan cairan dengan kebutuhan, dan kenali prosedur bantuan darurat di lokasi lomba. Jika memiliki kondisi medis atau gejala saat berolahraga, mintalah saran tenaga kesehatan mengenai aktivitas yang aman. Jangan jadikan rasa malu karena berhenti sebagai alasan untuk mengabaikan sinyal bahaya, karena tidak ada medali yang sepadan dengan keputusan untuk mengabaikan keadaan darurat medis.
Kita Berlari untuk Hidup, Bukan Mempertaruhkan Hidup demi Berlari
Tragedi Yoo Ji-won mengingatkan kita bahwa di balik setiap catatan waktu dan foto di garis finis, ada manusia dengan tubuh yang memiliki batas. Kita boleh mengejar target. Kita boleh berlatih untuk menjadi lebih cepat. Kita boleh merasa bangga ketika akhirnya berhasil menyelesaikan jarak yang sebelumnya terasa mustahil. Namun, kita juga harus belajar untuk berhenti ketika kondisi tidak lagi aman, meminta pertolongan ketika membutuhkannya, dan memberikan pertolongan ketika orang lain berada dalam keadaan darurat.
Pelajari CPR. Kenali AED. Ketahui cara menghubungi bantuan medis. Dan jangan menunggu sampai sebuah tragedi terjadi di depan mata untuk menyadari betapa pentingnya semua itu. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah lomba tidak seharusnya hanya diukur dari siapa yang paling cepat mencapai garis finis. Ada satu hal yang jauh lebih penting daripada personal best: kesempatan untuk pulang dengan selamat, beristirahat, dan berlari lagi pada hari berikutnya.
The finish line can wait. Your life cannot.
References:
American Heart Association — Treatment of Cardiac Arrest, What Is an AED, Adult Basic Life Support
VnExpress International — kasus Yoo Ji-won
